Wasir: Penyebab, Gejala, dan Tahapannya
Wasir muncul ketika pembuluh darah di sekitar anus mendapat tekanan berlebih dalam waktu lama. Berikut penyebab yang paling sering, gejala yang membedakannya dari keluhan lain, dan empat tahapan yang biasa dipakai dokter.
Wasir — atau ambeien, atau hemoroid dalam istilah medis — bukan penyakit langka. Sebagian besar orang dewasa pernah mengalaminya setidaknya sekali. Yang membuatnya terasa berat biasanya bukan tingkat keparahannya, melainkan rasa sungkan membicarakannya, sehingga penanganan sering terlambat.
Artikel ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di tubuh, apa yang memicunya, dan bagaimana membedakan gejalanya.
Apa yang sebenarnya terjadi
Di sekitar anus dan bagian bawah rektum ada jaringan pembuluh darah yang normal dimiliki semua orang. Fungsinya membantu menutup saluran anus dengan rapat. Jaringan ini menjadi masalah ketika mengalami tekanan berlebih dalam waktu lama: pembuluh darahnya melebar, membengkak, dan jaringan penyangganya melemah.
Jadi wasir bukan sesuatu yang tumbuh dari luar. Ia adalah struktur normal yang membengkak karena tekanan.
Penyebab yang paling sering
Mengejan saat buang air besar. Ini pemicu nomor satu. Mengejan kuat menaikkan tekanan di area panggul secara mendadak dan berulang.
Sembelit menahun. Tinja yang keras memaksa mengejan, dan mengejan memperparah wasir. Lingkaran ini yang membuat keluhan sulit reda kalau hanya gejalanya yang diobati.
Diare berkepanjangan. Kebalikannya juga bermasalah: buang air besar terlalu sering mengiritasi area anus.
Duduk terlalu lama. Terutama duduk di toilet sambil membaca atau bermain ponsel. Posisi duduk di kloset membuat area anus menggantung tanpa penyangga, dan darah menumpuk di situ.
Kehamilan. Rahim yang membesar menekan pembuluh darah panggul, ditambah perubahan hormon yang memperlambat kerja usus. Wasir saat hamil sangat umum dan sering membaik sendiri setelah melahirkan.
Mengangkat beban berat. Termasuk saat berolahraga dengan teknik napas yang salah.
Pola makan rendah serat dan kurang minum. Keduanya membuat tinja mengeras.
Usia. Jaringan penyangga di sekitar anus melemah seiring waktu, jadi risikonya meningkat setelah usia 45 tahun.
Gejala: wasir dalam vs wasir luar
Membedakan keduanya penting, karena penanganannya tidak sama.
Wasir dalam terbentuk di dalam rektum, di atas garis yang tidak memiliki banyak serabut saraf nyeri. Karena itu sering tidak terasa sakit. Gejalanya:
- Darah segar berwarna merah terang saat buang air besar — menetes, atau menempel di tisu
- Rasa mengganjal atau seperti belum tuntas setelah buang air besar
- Pada tahap lanjut, ada jaringan yang menonjol keluar
Wasir luar terbentuk di bawah kulit di sekitar lubang anus, area yang kaya serabut saraf. Gejalanya lebih terasa:
- Benjolan yang bisa diraba
- Nyeri, terutama saat duduk atau buang air besar
- Gatal dan iritasi
- Pembengkakan
Keduanya bisa terjadi bersamaan pada orang yang sama.
Empat tahapan wasir
Untuk wasir dalam, dokter umumnya memakai empat derajat:
- 1Derajat 1 — pembengkakan masih di dalam, belum menonjol keluar. Gejala utamanya perdarahan.
- 2Derajat 2 — menonjol keluar saat mengejan, lalu masuk kembali dengan sendirinya.
- 3Derajat 3 — menonjol keluar dan harus didorong masuk dengan tangan.
- 4Derajat 4 — menonjol keluar dan tidak bisa dimasukkan kembali.
Derajat 1 dan 2 umumnya masih dapat dikelola dengan perbaikan pola makan dan kebiasaan buang air besar. Derajat 3 dan 4 biasanya memerlukan penilaian dokter untuk menentukan tindakan.
Perdarahan dari anus tidak selalu berasal dari wasir. Kondisi lain — mulai dari fisura ani sampai penyakit yang lebih serius — bisa memberi gejala serupa. Karena itu perdarahan yang berulang sebaiknya tidak diasumsikan sendiri sebagai wasir.
Kapan harus ke dokter
Segera periksakan bila menemui salah satu dari berikut:
- Perdarahan banyak, berulang, atau berwarna gelap
- Nyeri hebat yang muncul mendadak
- Benjolan yang tidak bisa masuk kembali
- Demam disertai nyeri di area anus
- Perubahan pola buang air besar yang menetap
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
Yang bisa dilakukan mulai sekarang
Tanpa menunggu apa pun, tiga kebiasaan ini menurunkan tekanan pada area anus: perbanyak serat sampai 25–30 gram sehari, minum minimal dua liter air, dan jangan menahan keinginan buang air besar. Batasi juga waktu duduk di toilet — idealnya di bawah lima menit, tanpa ponsel.
Perawatan luar dan perawatan herbal dapat membantu kenyamanan selama proses perbaikan kebiasaan berjalan, tetapi tidak menggantikan perbaikan kebiasaan itu sendiri. Selama pemicunya masih ada, keluhan cenderung berulang.